Tuesday, June 30, 2015

EKSPLORASI LINTAS UTARA – KABUPATEN KAPUAS HULU

Nama Agustinus Wibowo mungkin akrab di telinga para traveler tanah air. Suatu ketika dalam bukunya ia berkata : ” Perjalananku bukan perjalananmu, tapi perjalananku adalah perjalananmu. Masing-masing kita punya safarnama sendiri-sendiri, tapi hakikat safarnama itu adalah sama. Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang.”

Sungguh dalam ia mengartikan sebuah perjalan. Lantas apa makna sebuah perjalanan bagi saya, anda, dia, dan mereka yang lain?

Kata “travel” dalam bahasa Inggris artinya melakukan perjalanan. Sedangkan dalam bahasa Perancis kata “travail” artinya kerja keras. “Safar” dalam bahasa arab adalah perjalanan sedangkan “suffer” dalam bahasa Inggris maksudnya adalah derita; penderitaan. Dan keempat makna itu rupanya terjalin padu dan rapi dalam setiap perjalanan yang dilakukan oleh seorang manusia.

Bahagianya seorang petualang itu ada dua, saat mengepak tas untuk kembali melanjutkan perjalanan dan saat mengepak tas untuk kembali pulang. Pulang, yang kemudian suatu saat akan pergi lagi. Setting tempat boleh saja berbeda, namun pristiwa “perjalanan” itu sendiri akan selalu menyertai pada kegiatan “pergi” atau “pulang” tersebut. Energi kuat saat “pergi” adalah saat ada seseorang yang berharap kita juga “pulang” kembali. Hidup di dunia itu seperti sebuah perjalanan itu. Kita hanya singgah sementara saja. Tidak ada yang kekal.

Merancang sebuah perjalanan tentu juga harus dibarengi dengan ketelitian dan cermat secara ekonomis. Mencatat semua pengeluaran kita secara detail dilakukan agar kita terbiasa bertanggung jawab pada amanah harta yang ada di tangan kita. Kemana keuar dan untuk apa ia dibelanjakan. Ini bukan kikir atau pelit. Ini adalah bahan evaluasi yang kelak kita akan pertanggungjawabkan. Apalagi bagi seorang traveler. Pengaturan uang itu pentingnya sama dengan pengaturan stamina dan dapur pacu dengkul kita. Prinsip ekonomi harus menjadi pertimbangan dengan memperhatikan kenyamanan. Tapi juga jangan sampai membuat tubuh manja dijejali fasilitas kemudahan. Karena perjalanan itu sejatinya juga cara mendidik kita dalam mengelola kepemimpinan dan sumber daya.

Begitulah sekiranya aku memaknai sebuah perjalanan. Dalam kehidupan ini, manusia terkadang melihat lebih banyak, tetapi tidak belajar lebih banyak.

Kali ini akan diceritakan perjalanan menuju objek utama, Taman Nasional Danau Sentarum. Lokasinya berada di Kabupaten paling timur di Kalimantan Barat, yaitu Kapuas Hulu. Ibu kota kabupaten ini terletak di Putussibau yang dapat ditempuh lewat transportasi sungai Kapuas sejauh 846 km, lewat jalan darat sejauh 814 km, melalui jalur lama (bukan trans Kalimantan) dan lewat udara ditempuh dengan pesawat berbadan kecil dari Pontianak melalui Bandar Udara Pangsuma. Dikutip dari Wikipedia.com Bandara ini memiliki Panjang Landasan/Arah/PCN: 1.004 x 23 m / 10-28 / 5 FCZU, tergolong Kelas IV dengan kemampuan bisa untuk mendarat jenis pesawat DHC-6 serta memiliki Terminal Domestik seluas 240 m2. Saat ini sudah ada dua maskapai yang melayani penerbangan dari Pontianak ke Putussibau, yaitu Kalstar Aviation dan Garuda Indonesia.

Mengingat bahwa perjalanan ini dilakukan dengan budget ketat, maka kami memilih jalur darat menggunakan bus umum eksekutif ber-AC milik armada CV. Perintis. Bus berangkat dari Pool Perintis di pusat pertokoan Kapuas Indah pukul 14.00 siang. Suasana di dalam bus cukup nyaman, kursi empuk, penumpang tidak berjejal, dan tentunya dilengkapi dengan pendingin udara. Jalur yang ditempuh adalah melalui jalur alternatif trans kalimantan Pontianak – Tayan – Sosok.

Yang menjadi hal pengganggu kenyamanan perjalanan kami adalah kondisi infrastruktur di wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Kondisi jalan benar-benar memprihatinkan sehingga sering mengakibatkan puluhan kendaraan harus berjejer antri satu persatu melintasi jalan yang rusak. Jalanan menuju ke daerah pedalaman Kalbar yang penuh tantangan dan menguji ketangguhan pinggang serta pinggul akan menyisakan cerita tersendiri. Bayangkan saja, perjalanan darat dari Pontianak-Putusibau yang mencapai jarak kurang lebih 580 km via jalur alternatif Sei Ambawang (Pontianak)-Tayan-Sosok ternyata 40% dalam kondisi rusak parah. Bahkan ditengah-tengah ibukota Kabupaten sekalipun seperti di Sintang anda akan disuguhkan jalanan rusak, berdebu dan kubangan super becek kala hujan turun. Sebelas- dua belas juga dengan jalananan Bodok-Sanggau yang berselang 20 m selalu akan ada lubang dan kubangan. Jalan negara antara Sintang menuju ada beberapa titik yang mengalami kerusakan cukup serius, salah satunya yang berada di sekitar kawasan hutan lindung di Kecamatan Silat Hulu. Mungkin ini bisa jadi bagian dari komoditas wisata adventure dan jejak petualang? Mungkin!
Masyarakat perlu bersabar dengan konsep pembangunan daerah yang minim visi ini. Malu dengan negeri jiran terdekat, dimana jalan raya dari Tebedu menuju Kuching kualitasnya mirip jalan tol di Jawa, dengan letak pemukiman yang terletak menjorok ke dalam dan ter-cluster jauh dari jalan raya. Alih-alih bicara pelebaran jalan dan peningkatan kualitas jalan, yang sekarang sudah merupakan prestasi yang luar biasa dan patut disyukuri, dibanding 3-4 tahun yang lalu dimana Pontianak-Putusibau harus ditempuh hingga berhari-hari dengan kendaraan yang tak biasa pula. Sudahlah, luka lama ini jangan lagi dibahas!
Sekali lagi, kami menempuh perjalanan yang tidak mudah. Semua terasa lega ketika nampak dari kejauhan Gerbang Selamat Datang di Kota Putussibau. Melirik arloji yang melingkar, waktu menunjukkan pukul 06.12 keesokan harinya. Artinya waktu tempuh Pontianak – Putussibau sekitar 16 jam. Setara dengan perjalanan udara Jakarta (Indonesia) – London (Inggris). Spektakuler!
Sesampainya di Putussibau kami beristirahat menumpang di rumah kerabat. Kota Putussibau dengan semboyan “Bumi Uncak Kapuas” memang tidak terlalu besar dibandingkan kota Pontianak apalagi dengan kota di pulau Jawa, dengan luas sekitar 29.842 km2 dan jumlah penduduk sekitar 300 ribu jiwa, namun kota ini tampak bersih dan teratur dengan kondisi lalu lintas yang jelas jauh lebih tertib dibandingkan kota Pontianak. Kota ini relatif berkembang. Sudah terdapat bandara, RSUD, sekolah negeri maupun swasta, toko swalayan, beberapa hotel layak huni, pusat kebugaran, sarana dan gedung olahraga, rumah ibadah, rumah makan bermenu khas Kapuas Hulu, , taman alun-alun, pasar pagi tradisional, pasar inpres, dan beberapa fasilitas publik lainnya.

Sore harinya kami mengunjungi Rumah Betang Bali Gundi di Sibau Hulu dan selepas itu bermain-main dengan air Sungai Kapuas di ujung Rumah Betang itu. Penghuni Rumah Betang sangat antusias menyambut kedatangan tamu dari luar seperti kami. Anak-anak berhamburan ke teras rumah. Hampir semua penghuni Betang keluar untuk melihat siapa yang datang.

Suasana di Betang begitu nyaman, aman, sejuk dan bersih yang membuat kami dapat sedikit merenggangkan beban pikiran dari rutinitas pekerjaan dan terutama lelahnya perjalanan hari kemarin. Rumah Betang ini memiliki panjang sekitar 150 meter. Berpintu 55 (dihuni 55 kepala keluarga). Mereka dipimpin oleh seorang temanggung adat yang bertanggungjawab sebagai kepala adapt. Kepala adat mempunyai wewenang menyelesaikan perkara adat berat, seperti pembunuhan, perkelahian massal dan penyerangan-penyerangan dari kampung-kampung lain. Arsitektur Rumah Betang begitu kokoh, berfondasikan kayu ulin yang hitam mengkilat, juga berlantaikan kayu ulin yang berkualitas baik, ditambah dengan ornamen-ornamen, ukiran-ukiran gambar dan patung-patung khas Suku Dayak yang pastinya memiliki nilai-nilai tertentu. Keramahan masyarakat setempat dan Kepala Dusun Tanjung Pandan yang berbaik hati memperlihatkan pakaian yang biasanya dipakai dalam acara-acara tertentu serta memamerkan kerajinan tangan masyarakat Betang Bali Gundi. Semuanya menjadi pelengkap perjalanan tanpa rencana ini. Banyak sekali nilai-nilai religi, kultural, sosial dan edukasi di sini. Mulai dari adat istiadat yang masih kental, kemudian mengingat kembali sejarah-sejarah masa lalu yang memiliki nilai historis tentunya, sampai memaknai arti sebuah kebersamaan, dimana kerukunan dan saling pengertian menjadi modal utama untuk menjalani sebuah kehidupan.

Sebelum pulang Kepala Dusun menceritakan asal usul penamaan Rumah Betang ini. Nama Bali Gundi ternyata memiliki makna filosofis. Bali yang berarti “Membeli” dan Gundi berarti “Tempayan”. Yang jika disatukan menjadi Bali Gundi yaitu “Membeli Tempayan”. Alkisah singkatnya, pada zaman dahulu masyarakat Sibau belum memiliki rumah menetap dan hidup berpindah-pindah. Ketika dalam perpindahan tersebut ada seorang bidadari dari kayangan yang menukarkan Pulau Sibau ini dengan sebuah tempayan untuk tempat tinggal mereka. Kelak dimana tempayan itu tidak mampu lagi diangkat sewaktu berpindah-pindah, disitulah mereka membangun Betang .

Kami pun pulang berbekal sebuah pengalaman baru. Bertandang ke Rumah Betang memberikan bukti bahwa kehidupan komunal masih ada di tengah perkembangan zaman yang cenderung individualis. Kehidupan rumah betang yang menitikberatkan pada kebersamaan dan permufakatan adalah manifestasi dari nilai-nilai gotong royong yang merupakan ciri khas sosialisme Indonesia.

Malam harinya kami pun menyusun rencana keberangkatan ke Danau Sentarum. Kami mengontak kawan warga asli Lanjak untuk menyiapkan speedboat sebagai transportasi ke danau. Rupanya speedboat sudah disiapkan dua hari sebelumnya. Kontak telepon selesai dan urusan transportasi ke danau beres tanpa kendala. Giliran masalah konser di kampung tengah alias perut keroncongan yang harus diselesaikan. Hahaha..  Jadilah kami makan malam dengan lauk kerupuk basah khas Kapuas Hulu dan ikan patin asam pedas yang lezatnya bukan main. Kenyang dan puas rasanya malam itu.

Keesokan paginya, kami berenam bersiap menuju Lanjak. Setelah memeriksa keadaan motor dan mengisi bahan bakar, perjalanan pun di mulai. Waktu menunjukkan pukul 10.05. Jarak Putussibau menuju Lanjak sekitar 122 km dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Jalan aspal akan ditemui hingga wilayah Desa Apan. Selebihnya tanah kuning dan pengerasan hingga ke Mataso. Dari Mataso jalan relatif mulus hingga menuju Lanjak. Hari itu cuaca begitu cerah, tidak terlalu panas, namun tidak juga turun hujan. Kami singgah mengisi bahan bakar sekaligus beristirahat di Mataso sambil menenggak minuman pelepas dahaga. Di warung itu, orang-orang segera menyadari bahwa kami adalah pendatang. Mereka nampak celingak-celinguk memperhatikan gerak-gerik kami. Pemilik warung menghampiri kami dan memulai obrolan siang itu. Tutur katanya sopan, tanpa ada kesan intimidasi, menanyakan tujuan perjalanan kami. Dari sang pemilik warung kami mendapatkan informasi tambahan bahwa sebelum mencapai Lanjak, kami akan melewati wilayah Sungai Sedik. Disinilah terdapat sebuah air terjun kecil yang cukup menyegarkan mata. Berharganya informasi itu dan tidak kami sia-siakan.

Cukup beristirahat perjalanan kemudian dilanjutkan. Sang pemilik warung pun tersenyum dan melambaikan tangannya di depan warung sembari berpesan untuk berhati-hati di jalan. Berbekal informasi darinya kami singgah di Sungai Sedik. Benar rupanya, air terjun kecil ini begitu menyejukkan. Bagi yang ingin menuju Lanjak menyambangi Sungai Sedik tentu tidak boleh dilewatkan. Pengunjung bisa melihat keindahan air terjun dan berenang di kolam yang menampung aliran air tersebut,. Sungai Sedik mengalir  mengikuti kontur perbukitan sebelum memasuki kawasan Genting Lanjak. Gemiricik airnya bahkan terdengar dari jalan yang melaluinya. Pemandangan di sungai yang jernih dan alami ini cukup eksotis. Di bagian hulu Sungai Sedik, terdapat air terjun yang dikelilingi hijau hutan tropis. Kejernihan, kesegaran, serta melimpahnya air di kolamnya akan mengundang siapa saja untuk berenang.

Dari Sungai Sedik menuju Lanjak tidak jauh lagi. Sebelum memasuki kota Lanjak, setiap pengunjung harus melalui sebuah jalan menanjak yang dinamakan Genting Lanjak. Dari sinilah tampak Danau Sentarum dan Pulau Melayu. Pemandangan begitu eksotis sedikit mistis disuguhkan oleh sang danau dari kejauhan. Mistis disini diartikan sebagai sugesti bahwa sang danau seakan mengajak semua pengunjung untuk kesana menikmati pesonanya.

Menuruni Genting Lanjak juga tidak kalah serunya dengan pada saat menajak. Kontur perbukitan membuat jalur menurun sedikit berkelok-kelok. Namun tidak perlu khawatir kondisi jalan di Lanjak sudah mulus. Sepanjang 10 menit jalan menurun pengunjung dapat melihat panorama hutan yang begitu indah sambil sesekali melihat burung tekukur yang terbang rendah. Tanjakan dan turunan Genting Lanjak sama-sama menantang untuk ditelusuri. Setiap kelokan memacu adrenalin dan menguji kehandalan berkemudi.

Jam menunjukkan pukul 14.30 siang, kami pun sampai di rumah kawan yang sudah kami hubungi sebelumnya. Semua sudah disiapkan sehingga tidak perlu repot mengurus hal-hal selama kami di Lanjak dan menuju Danau Sentarum. Rumah kawan yang kami tempati adalah sebuah rumah panggung bercorak akulturasi Melayu dan Dayak. Hal ini nampak dari arsitektur rumah yag dibangun tinggi berjarak dengan tanah dan sirap yang digunakan sebagai atap rumah. Cukup tradisional namun nyaman. Mengingat lokasi Kota Lanjak lumayan terpencil dan kehidupan masyarakatnya yang relatif masih tradisional, keberadaan hotel mewah nyaris tidak ada. Akan tetapi, bukankah ini merupakan suatu petualangan sendiri untuk mencicipi hidup sejenak yang dekat dengan alam liar. Kendati demikian sudah banyak ditemukan hotel kelas melati di Kota Lanjak. Selain menginap di hotel, Anda juga dapat menginap di rumah-rumah penduduk yang memang sengaja disewakan untuk pengunjung maupun wisatawan.

Lanjak, adalah ibu kota Kecamatan Batang Lupar menjadi salah satu wilayah di Kapuas Hulu yang menjadi gerbang untuk memasuki pesona dan keindahan Taman Nasional Danau Sentarum. Di sini pengunjung masih bisa menemukan bukti sejarah masa silam yakni sebuah gudang logisitik pada masa penumpasan PGRS/Paraku. Masa-masa itu  menciptakan tragedi kemanusiaan yang lagi-lagi diakibatkan peta politik yang tergantung pada idealisme. Gudang terbuat seluruhnya dari seng tebal yang masih bertahan puluhan tahun kemudian masih berdiri dengan tegak kemudian difungsikan oleh militer sebagai sel untuk anggota pemberontak yang tertangkap. Melihat bangunan itu, hati kami bergidik membayangkan penderitaan yang dialami oleh mereka yang terkurung dan dibiarkan mati kedinginan, kepanasan dan kelaparan. Kita tidak bisa memutar waktu untuk memperbaiki keadaan, namun biarlah gudang itu menjadi saksi dan mengingatkan kita untuk menjadi manusia yang lebih baik kedepannya, menghargai kemanusiaan dan menjaga agar negara ini tidak lagi berada pada situasi yang membuat kita abai terhadap hak hidup orang lain.
Waktu semakin sore dan saatnya kami diajak kawan utnk masuk ke kampung. Ada pesta gawai katanya. Budaya masyarakat yang menghuni Lanjak juga dapat menjadi daya tarik lain di daerah ini. Umumnya penduduk asli Kecamatan Batang Lupar terdiri dari Suku Dayak baik sub suku Iban dan sub suku Embaloh. Kedua Sub Suku ini hingga kini masih memegang teguh adat-istiadatnya dengan tetap melaksanakan upacara-upacara atau ritual adat seperti acara Gawai.

Sungguh kebetulan kami mengunjungi Lanjak ketika digelarnya acara Gawai Dayak. Pada intinya acara Gawai merupakan wujud syukur masyarakat Dayak atas hasil panen yang telah diperoleh. Gawai di Lanjak dikemas dengan meriah. Rumah Betang dihias dengan ornamen-ornamen yang memikat mata. Kampung-Kampung sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Beragam makanan tradisional dan sejumlah sesaji pun tak lupa disiapkan sebagai salah satu unsur penting upacara. Penganan khas berupa nasi pulut dan tuak adalah dua menu wajib dalam acara gawai. Musik tradisional pun dimainkan menambah semarak malam gawai tersebut. Kami pun ikut bersuka ria dalam suasana malam itu. Puas, kenyang, dan senang kami beranjak meninggalkan acara gawai untuk mempersiapkan keberangkatan ke danau esok harinya.

Pagi jam 06.00 setelah sarapan, kami menuju dermaga speedboat di ujung jalan pasar Lanjak. Disanalah speedboat milik kawan kami ditambatkan. Satu speedboat bisa menampung 5 orang termasuk pengemudi. Karena jumlah kami yang melebihi kapasitas maka digunakan 2 speedboat dengan susunan 4 orang/boat. Penelusuran danau pun kami mulai. Speedboat melaju dengan kencang. Suaranya meraung-raung mebleha air danau yang kehitam-hitaman. Air danau saat itu lumayan pasang. Uniknya, di musim kemarau air danau surut meninggalkan hamparan tanah kering yang berkali-kali luasnya dengan lapangan bola.Begitu keringnya air danau sehingga motor pun bisa melintasinya.

Perjalanan kami mengarungi danau, cukup membakar kulit karena teriknya matahari. Meski begitu, semua itu terbayarkan begitu melihat keindahan pemandangan. Di pinggir Danau Sentarum banyak dijumpai rumah-rumah terapung milik penduduk ataupun rumah panggung sederhana. Beberapa nelayan diatas sampan, terlihat sedang menangkap ikan. Hembusan angin pagi hari yang cukup kuat, harus diimbangi dengan keterampilan pengemudi dalam mengemudikan speedboat, bila tak mau menabrak pepohonan rawa. Dengan luas sekitar 132 ribu hektar, Taman Nasional Danau Sentarum sangat luas untuk dijelajahi.

Setelah mengarungi danau sekitar 30 menit lamanya diatas speedboat, akhirnya kami tiba di salah satu pulau yang dinamakan penduduk sekitar Pulau Melayu. Keunikan dari pulau ini adalah keberadaan Batu Beranak yang berada di atas bukit. Konon ada sebuah mitos yang sampai saat ini masih dipercaya oleh masyarakat sekitar. Mitos tersebut kira-kira seperti begini. Boleh percaya atau tidak, bagi orang-orang yang ingin menyampaikan hajat, permohonan, doa, keinginan yang belum tercapai, dan sejenis nya potonglah ranting pohon seukuran sejengkal. Kemudian berjalanan naik ke atas bukit, sambil menggenggam ranting dan mengucapkan permohonan di dalam hati. Hingga mencapai Batu Beranak, letakkan ranting tersebut di atas batu. Tinggalkan ranting tersebut untuk beberapa saat dan berjalanlah menjauh (kami disarankan turun). Dan kemudian naik lagi ke bukit. Ukur kembali ranting yang dipotong tadi. Apabila ukuran ranting bertambah panjang melebihi sejengkal maka niscaya permohonan tersebut akan terkabul. Tetapi saya belum beruntung, ranting yang saya letakkan tidak berubah sejengkal pun.

Di Pulau Melayu ini terdapat fasilitas Pondok Wisata yang bisa digunakan untuk pengunjung Taman Nasional. Tapi sayang kondisinya rusak dan tidak terurus. Dari pondok wisata pengunjung bisa dengan leluasa menyaksikan lanskap Danau Sentarum dari atas bukit.  Bagi yang sudah biasa, perjalanan ke atas memakan waktu tak sampai 15 menit, tapi bagi yang belum terbiasa, perjalanan ini bisa jadi sebuah latihan fisik. Namun semua itu terbayarkan begitu akhirnya bisa sampai keatas. Bagi yang gemar memancing, Danau Sentarum memiliki potensi ikan yang sangat kaya. Seperti misalnya ikan toman, ikan betok, ikan lais, dan lain-lain. Beruntung hari itu kami berhasil mendapat ikan toman yang berukuran cukup besar. Hasil pancingan disajikan dalam olahan yang masih asli tanpa sentuhan bumbu. Rasa ikannya lembut dan manis di lidah. Sayangnya waktu kami tak banyak. Taman Nasional Danau Sentarum yang begitu luas, hanya sempat kami lihat dari atas Pondok Wisata Pulau Melayu. Namun setidaknya, kami sudah mencicipi keindahan panorama danau beserta keanekaragaman hayatinya yang mungkin saja termasuk lengkap di dunia.

Menelusuri perairan Danau Sentarum tidak berlebihan rasanya seperti ungkapan menjatuhkan diri pada pelukan alam. Bagaimana tidak, sekejap kami  berada di tengah hamparan danau yang luas dikelilingi perbukitan nan hijau memukau. Saat-saat itu adalah pembuktian jiwa petualangan seseorang di jantung belantara Kalimantan. Di Sentarum inilah telah bersatu semua elemen keindahan flora, fauna, dan budaya dalam satu bejana  wisata. Tak hanya sekedar alamnya yang menawan, budayanya pun mempesona. Berkenaan dengan itu, promosi besar-besaran harus segera digencarkan untuk menarik wisatawan sebanyak-banyaknya berkunjung kesana. Harus diakui bahwa Danau Sentarum memang belum setenar danau-danau lainnya di Indonesia, namun ia menunggu untuk dijamah dan dieksplorasi lebih ekspansif menjadi sebuah destinasi yang layak dikunjungi warga dunia.


Salam Petualangan!

Gerbang Selamat Datang di Putussibau

Jembatan Darurat yang hampir roboh

Saat-saat Gawai

Mesin Speedboat membelah air danau

Warna Air Danau yang kehitam-hitaman karena kandungan zat tanin

Genting Lanjak, Photo Spot Danau Sentarum

Refleksi Air Danau

No comments:

Post a Comment